HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN KELAPA SAWIT

0 comments
Gambaran umum dan pengenalan secara umum terhadap hama dan penyakit tanaman kelapa sawit dalam kaitan usaha budidaya kelapa sawit sangat diperlukan. Produktifitas dan hasil produksi tanaman turut dipengaruhi oleh serangan hama & penyakit. Tanaman yang dibudidayakan produksinya tidak akan dapat optimal jika mengalami serangan hama dan penyakit. Oleh sebab itu perlu pengenalan dan pengetahuan secara umum dan praktis mengenai hama dan penyakit, sehingga akan memudahkan dalam mengidentifikasi dan proses penanganan lebih lanjut. Harapannya gambaran secara umum ini dapat membantu kemudahan dari sisi operasionalisasi di lapangan dalam kegiatan budidaya kelapa sawit. Serangan hama & penyakit pada tanaman pada situasi ekstrim tertentu dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar dalam budidaya, bahkan menyebabkan kematian bagi tanaman.

Berikut beberapa pengenalan secara umum dan praktis mengenai hama penyakit untuk membantu memudahkan operasional di lapangan, sbb:

I. HAMA
  • Kumbang (Oryctes rhinoceros) dengan gejala serangan pada daun muda yang belum membuka, pangkal daun berlubang-lubang. Pengendalian dengan menggunakan predator seperti ular, burung dan sebagainya. Selain menggunakan predator hama juga dapat menggunakan parasit hama tersebut seperti virus Baculovirus oryctes dan jamur seperti Metharrizium anisopliae .
  • Nematoda (Rhadinaphelenchus cocophilus) dengan gejala serangan pada daun. Daun yang terserang menggulung, tumbuh tegak, warna daun berubah menjadi kuning dan akhirnya akan mongering. Pengendaliannya dapat dengan cara pohon yang terserang dibongkar dan dibakar, ataupun dengan cara tanaman dimatikan dengan menggunakan racun natrium arsenit.
  • Ulat api (Setora nitens, Darna trima, Ploneta diducta) dengan gejala serangan daun menjadi berlubang-lubang dan selanjutnya hanya tersisa tulangnya daunnya saja. Pengendalian dapat dengan cara pengaplikasian insektisida berbahan aktif triazofos 242 gr/lt, karbaril 85 % dan klorpirifos 200 gr/lt.
  • Ulat kantong (Matisa plana, Mahasena corbetti, Crematosphisa pendula)dengan gejala serangan daun rusak, berlubang menjadi tidak utuh, dan tahap selanjutnya daun akan menjadi kering serta berwarna abu-abu. Pengendalian dapat dengan cara aplikasi insektisida yang berbahan aktif triklorfon 707 gr/lt dengan dosis 1.5 – 2 kg/ha. Dapat juga menggunakan timah arsetat dengan dosis 2.5 kg/ha.
  • Tikus (Rattus tiomanicus, Rattus sp) Gejala serangan adanya bekas gigitan terutama pada buah, bibit dan tanaman muda yang terserang pertumbuhannya tidak normal. Pengendalian dapat menggunakan atau mendatangkan predator seperti burung hantu, ular dan sebagainya, serta tindakan pengemposan pada tempat-tempat yang dijadikan sarang oleh tikus.
  • Belalang (Valanga nigricornis, Gastrimargus marmoratus) dengan gejala awal bagian tepian daun yang terserang terdapat bekas gigitan. Pengendalian dapat menggunakan predator seperti burung sebagai pemangsa alaminya.
  • Tungau (Oligonychus sp) dengan gejala serangan pada daun yang terserang berwarna seperti perunggu dan mengkilat. Pengendalian dengan melakukan aplikasi akarisida yang mengandung bahan aktif tetradifon 75.2 gr/lt.
  • Ngengat (Tirathaba mundella) dengan gejala serangan pada buah muda maupun buah tua terdapat lubang-lubang. Pengendalian dengan cara pengaplikasian insektisida yang mengandung bahan aktif triklorfon 707 gr/lt atau andosulfan 350 gr/lt.
  • Pimelephila ghesquierei dengan gejala serangan pada daun yang terserang banyak yang patah karena menyerang dengan melubangi tulangan daun. Pengendalian dapat dilakukan dengan pengaplikasian semprot parathion 0.02 %. 
II. PENYAKIT
  • Bud Rot atau Penyakit Busuk Titik Tumbuh, gejala serangan pada tanaman yang terserang, kuncupnya mengeluarkan bau busuk, kuncup membusuk dan mudah dicabut. Penyebab serangan bakteri erwinia, pengendalian dapat mengaplikasikan bakteri yang berfungsi sebagai pemangsa bagi bakteri erwinia.
  • Spear Rot atau Busuk Kuncup, gejala serangan daun berwarna kecoklatan, jaringan pada kuncup yang terserang membusuk. Penyebab serangan ini sampai saat ini masih dalam kajian dan belum menemukan penyerang yang pasti. Pengendalian yang dilakukan masih sebatas melakukan pemotongan bagian kuncup yang terserang.
  • Upper Stem Rot atau Penyakit Busuk Batang Atas, gejala serangan memperlihatkan batang pada ketinggian sekitar 2 m di atas tanah membusuk dan berwarna coklat keabuan, warna daun yang terbawah berubah dan selanjutnya akan mati. Serangan disebabkan oleh jamur fomex noxius, penanganan dengan cara membuang bagian batang yang terserang dan menutup bekas luka dengan obat luka yang ada. Pada kondisi parah tanaman dibongkar dan dimusnahkan.
  • Basal Stem Rot atau Penyakit Busuk Pangkal Batang, gejala serangan pada daun yang terserang akan berwarna hijau pucat, tempat yang terinfeksi mengeluarkan getah, pada daun yang tua akan layu dan patah. Penyebab serangan adalah jamur Ganoderma, pengendalian dan pencegahan dapat melakukan aplikasi dengan menggunakan bahan yang mengandung Tricodherma ( produk CustomBio ), dapat disemprotkan kebagian yang terserang dan penyemprotan pada tanah sekeliling tanaman pokok secara melingkar. 
  • Dry Basal Rot atau Penyakit Busuk Kering Pangkal Batang, gejala serangan tandan buah membusuk, pelepah daun terutama bagian bawah patah, penyebabnya jamur Ceratocytis paradoxa, penanganan untuk tanaman yang sudah terserang secara hebat dengan melakukan pembongkaran dan pemusnahan dengan cara dibakar.
  • Blast Disease atau Penyakit Akar, gejala serangan pertumbuhan tanaman terlihat tidak normal, daun menguning, keragaan tanaman tidak segar. Penyebab serangan jamur Rhizoctonia lamellifera, Phytium sp , pengendalian dimulai sejak awal kegiatan di dalam pesemaian dengan mempersiapkan media yang tidak terkontaminasi jamur, drainase yang baik agar tidak terjadi kekeringan yang ekstrim pada tanaman.
  • Anthracnose atau Penyakit Antraknosa, gejala serangan daun terdapat bercak-bercak coklat diujung dan tepi daun, bercak coklat dikelilingi warna kuning dan terlihat sebagai pembatas antara daun yang sehat dengan daun yang tidak sehat/terserang penyakit. Penyebab serangan seperti jamur Melanconium sp, Botryodiplodia palmarum, Glomerella cingulata. Cara pengendalian sejak awal mulai dari pemindahan bibit, dimana seluruh media tanah bibit disertakan, jarak tanam, penyiraman dan pemupukan yang dilakukan secara teratur dan berimbang, aplikasi Captan 0.2 % atau Cuman 0.1 %
  • Patch Yellow atau Penyakit Garis Kuning, gejala serangan terdapat bercak-bercak pada daun dengan bentuk melonjong warna kuning dan di bagian dalamnya berwarna coklat. Penyebab jamur Fusarium oxysporum, pengendalian melakukan proses inokulasi pada bibit dan tanaman muda, atau dengan melakukan aplikasi bahan yang mengandung Tricodherma & Bacillus ( produk CustomBio )
  • Crown Disease atau Penyakit Tajuk, gejala serangan daun bagian tengah sobek, pelepah berukuran abnormal atau kecil-kecil, penyebabnya bias dikarenakan menurunnya sifat genetik indukan. Pengendalian dimulai sejak awal terutama melakukan seleksi indukan yang bersifat karier penyakit ini, sehingga akan didapatkan bibit yang mempunyai sifat-sifat yang sehat.
  • Bunch Rot atau Penyakit Busuk Tandan, gejala serangan adanya miselium bewarna putih diantara buah masak atau pangkal pelepah daun, penyebab jamur Marasmius palmivorus. Pengendalian dengan menjaga sanitasi kebun terutama pada musim penghujan, aplikasi difolatan 0.2 %, melakukan penyerbukan buatan atau kastrasi.

read more

CARA MENGHITUNG PRODUKSI KELAPA SAWIT

0 comments
Tanaman kelapa sawit menjadi primadona karena memiliki keuntungan yang sangat tinggi tetapi ini hanya bisa terjadi jika di kelola dengan cara yang benar. Keuntungan petani kelapa sawit merupakan selisih dari penjualan tandan buah segar kelapa sawit dengan biaya untuk produksi tandan buah segar (tbs) kelapa sawit tersebut. Kenyataan di lapangan petani kelapa sawit banyak yang mengalami kerugian karena biaya yang di keluarkan untuk memproduksi tandan buah kelapa sawit sangat tinggi.

Jika dirumuskan maka :
Keuntungan = (harga x produksi tbs) - biaya produksi tbs


Jika di lihat dari rumus di atas maka ada beberapa komponen utama yaitu :
1. Harga tandan buah segar
Harga merupakan komponen yang tidak bisa di tentukan oleh petani karena sudah di tetapkan oleh pemerintah melalui rapat harga yang dilaksanakan oleh dinas perkebunan, perusahaan dan petani.


Jika produksi tbs yang dihasilkan petani dan biaya produksi tbs di anggap tetap maka petani akan memperoleh keuntungan lebih besar jika harga naik sedangkan jika harga turun maka keuntungan petani juga akan turun.


Jadi dalam hal harga petani tidak memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan karena sudah di tentukan oleh pasar. Saat ini petani terbantu oleh harga sawit yang sangat tinggi karena sudah berada di atas Rp. 2000/kg tandan buah segar.


2. Produksi tandan buah segar
Produksi tandan buah segar sangat erat kaitannya dengan jenis bibit kelapa sawit dan pemeliharaan terutama (pemupukan dan pengendalian gulma) yang dilakukan sebab kelapa sawit memerlukan perawatan ekstra.


Jika kalapa sawit yang di tanam petani berasal dari bibit yang unggul maka potensi produksi yang dihasilkan sangat tinggi tetapi kenyataan petani banyak menanam bibit yang tidak unggul. Oleh karena itu produksi tandan buah segar petani sangat jauh dari harapan. Seperti contoh untuk kelapa sawit yang berumur 20 tahun jika menggunakan benih marihat masih memiliki potensi produksi > 24 ton/ha tetapi kenyataan banyak petani kelapa sawit hanya memperoleh 15-20 ton/ha. 


Jadi untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar maka petani harus bisa meningkatkan produksi dari kebunnya. Ini berarti membutuhkan pelatihan bagi petani tentang bagaimana cara agar kelapa sawit berbuah banyak.


3. Biaya produksi tandan buah segar
Biaya produksi terdiri dari jumlah semua komponen biaya yang di keluarkan untuk memproduksi tandan buah segar. Atau dapat di rumuskan :


Biaya produksi = Jumlah seluruh Komponen Biaya produksi (Rp)


Komponen biaya produksi meliputi biaya pemeliharaan kelapa sawit, biaya penen dan pengangkutan tandan buah segar.


Jika biaya produksi bisa di tekan melalui pengingkatan produktivitas tenaga kerja maka petani kelapa sawit akan memperoleh keuntungan yang lebih besar.


Biaya Produksi Petani Kelapa Sawit.
Dari hasil penelusuran kelapangan yang dilakukan oleh admin konsultasisawit dengan beberapa sumber di perkebunan kelapa sawit petani transmigrasi Riau saat ini biaya yang keluarkan petani Rp. 718/kg tandan buah segar, secara rinci adalah sebagai berikut :
Tabel Biaya Produksi Petani Kelapa Sawit Perkapling/Tahun
Uraian
Rotasi/Tahun
Biaya/ Rotasi (Rp)
Biaya/Tahun (Rp)
Pupuk
12
1.100.000
13.200.000
Menunas
1
700.000
700.000
Pengendalian gulma
2
                   1.000.000
 2.000.000
Perawatan Jalan
12
30.000
360.000
Panen

 Rp. 150/kg
5.400.000
Pengangkutan

 Rp. 90/kg
3.240.000
Administrasi Kelompok/KUD

 Rp. 10/kg
360.000
Sosial (Desa, Masjid dan sekolah)
12
50.000
600.000
Total Biaya Produksi (Rp)
25.860.000
Produksi Tandan Buah Segar (Kg)
36.000
Biya Produksi/kg TBS (Rp/Kg)
718

Jika kita lihat dari tabel di atas maka dengan harga Rp. 2.000/kg saat ini petani masih memperoleh keuntungan sebesara Rp. 1.282/kg. Dari segi bisnis hal ini sangat menguntungkan karena keuntungan yang diperoleh petani dari berkebun kelapa sawit mencapai 178%. Jika kita asumsikan petani meminjam modal ke bank dan dikenakan biaya bunga sebesar 15%/pertahun maka petani masih memiliki sisa keuntungan sebesar 63,42% dalam setahun.


Jadi kalau masih ada petani kelapa sawit yang rugi saat ini berarti produksi yang di hasilkan sangat rendah jika kita kembali kerumus di atas maka biaya produksi akan mencapai Rp. 2000/kg jika produksi yang dihasilkan < 5 ton/ha. Kalau sudah demikian maka kelapa sawit tersebut harus di replanting dengan tanaman yang baru karena sudah tidak layak lagi untuk di pelihara. 

Kesimpulannya untuk dapat meningkatkan keuntungan maka petani kelapa sawit harus :
  • Meningkatkan produksi tandan buah segar
Untuk meningkatkan produksi kelapa sawit maka harus dilakukan pemeliharaan sacara maksimal untuk selengkapnya silahkan baca artikel cara agar kelapa sawit berbuah banyak.
  • Mengurangi biaya produksi tandan buah segar
Cara yang paling mudah untuk mengurangi biaya produksi adalah dengan cara melaksanakan sendiri beberapa pekerjaan di kapling seperti panen, menunas, mengendalikan gulma, menyemprot dan kegiatan lainnya. Sehingga biaya yang seharusnya di bayarkan untuk pekerja menjadi pendapatan tetap petani kelapa sawit itu sendiri. Dari data di atas maka jika item perkejaan ini dilakukan maka petani akan mengurangi pengeluaran sebesar Rp. 6.300.000/tahun atau menekan biaya produksi sebesar Rp. 263/kg tandan buah segar.


read more

Unsur Hara Pada Tanaman Kelapa Sawit

0 comments
Dalam budidaya setiap tanaman tentu tidak terlepas dengan muara yang dikenal dengan profit atau keuntungan. Untuk dapat mencapai muara keuntungan tersebut tidak terlepas dari berbagai hal dan prosedur sesuai kaidah budidaya jenis tanaman yang diusahakan. Dalam budidaya suatu tanaman yang tidak kalah penting peranannya adalah bagaimana menyediakan unsur hara tanaman dalam keadaan tersedia dan berimbang, sehingga tidak menimbulkan effek negatif bagi usaha pembudidayaan. 

Pada kesempatan ini mencoba sedikit memaparkan Peranan Unsur Hara Pada Tanaman Kelapa Sawit yang dampak dan pengaruhnya sangat besar bagi pertumbuhan, perkembangan dan produksi tanaman. Hal ini penting untuk dipahami karena berkontribusi besar terhadap profit yang akan diperoleh. Semoga pemaparan secara singkat, praktis dan umum ini dapat memberikan manfaat bagi siapa saja.

Nitrogen
  • Unsur Nitrogen mempunyai peranan terhadap penyusunan protein, klorofil dan fotosintesa. Jumlah unsur ini harus seimbang di dalam tanaman, kelebihan atau kekurangan unsur ini akan memberi effek negatif terhadap tanman.
  • Kekurangan unsur Nitrogen pada tanaman akan menyebabkan daun berwarna kuning pucat sehingga akan menghambat pertumbuhan.
  • Kelebihan unsur Nitrogen menyebabkan daun lemah dan rentan terhadap penyakit/hama, White Stripe dan berpengaruh terhadap berkurangnya buah jadi.
  • Defisiensi Nitrogen disebabkan terhambatnya mineralisasi Nitrogen, diantaranya dapat diakibatkan karena aplikasi bahan organik dengan C/N tinggi, aplikasi pemupukan yang tidak efektif dan tidak tepat, akar yang tidak berkembang, gulma.
  • Tindakan antisipasi dengan prosedur dan pola aplikasi secara merata di piringan, aplikasi sebaiknya dilakukan pada kondisi tanah lembab, penambahan Urea, dan pendalian gulma.

Phospor
  • Unsur Phospor memiliki peranan terhadap penyusunan ADP/ATP, merangsang perkembangan akar, memperkuat batang tanaman dan memperbaiki mutu buah. Kekurangan unsur Phospor menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, pelepah memendek dan batang meruncing.
  • Indikasi kekurangan unsur Phospor diantaranya dapat dilihat pada lingkungan sekitar seperti daun alang-alang berwarna ungu, LCC sulit tumbuh, bintil akar sedikit.
  • Penyebab defisiensi unsur Phospor diantaranya kandungan unsur Phospor tanah rendah (< 15 ppm), kurangnya pemupukan Phospor, kemasaman tanah tinggi, dan hilangnya top soil akibat erosi.
  • Antisipasi dengan melakukan aplikasi Phospor di daerah seputaran pinggir piringan/gawangan, perbaiki tingkat kemasaman tanah, desain lahan yang mengacu untuk mereduce terjadinya erosi yang akan menghilangkan top soil tanah.

Kalium
  • Unsur Kalium memiliki peranan pada aktifitas stomata, enzim dan sintesa minyak. Berkontribusi besar pada peningkatan daya tahan tanaman terhadap penyakit, dan jumlah tandan serta besar kecilnya ukuran tandan.
  • Kelebihan dan kekurangan unsur Kalium masing-masing memberi effek negatif terhadap tanaman.
  • Kekurangan unsur Kalium menyebabkan bercak kuning/transparan, white stripe, daun tua menjadi kering dan mati. Kekurangan unsur ini dapat menyebabkan atau berasosiasi munculnya penyakit seperti ganoderma.
  • Kelebihan unsur Kalium bereffek negatif karena dapat menyebabkan rasio minyak terhadap tandan menjadi turun.
  • Penyebab kekurangan unsur Kalium antara lain unsur Kalium yang terdapat di dalam tanah rendah, kemasaman tanah tinggi dengan kemampuan tukar kation rendah, aplikasi pemupukan unsur Kalium kurang atau tidak seimbang.
  • Antisipasi dapat dilakukan dengan jalan pengaplikasian unsur Kalium yang cukup dan berimbang pada daerah seputar piringan tanaman, pengaplikasian tandan kelapa sawit, perbaiki tingkat kemampuan tukar kation tanah.

Magnesium (Mg) 
  • Unsur Mg berpengaruh sebagai penyusun klorofil, berperanan dalam respirasi tanaman, dan pengaktifan enzim.
  • Kelebihan dan kekurangan unsur Mg masing-masing membawa effek negatif terhadap tanaman, baik langsung ataupun tidak langsung.
  • Kekurangan unsur Mg menyebabkan daun yang tua berwarna hijau kekuningan pada sisi yang terkena sinar matahari, selanjutnya akan kuning kecoklatan lalu kering.
  • Penyebab defisiensi unsur Mg antara lain rendahnya kandungan unsur Mg di dalam tanah, pengaplikasian Mg yang kurang dan tidak berimbang, keberadaan unsur Mg dengan kation lain dalam keadaan tidak seimbang, lahan tempat tumbuh bertekstur pasir dengan top soil tipis, dan CH yang sangat berlebihan (>3,500 mm/th).
  • Antisipasi dengan melakukan aplikasi tandan kelapa sawit, gunakan Dolomit jika kemasaman tinggi, aplikasi pemupukan dengan ditabur pada pinggir piringan, dan menjaga rasio Ca/Mg dan Mg/K tanah agar tidak melebihi 5 dan 1.2 .
Tembaga (Cu)
  • Unsur Cu memiliki peranan pada pembentukan klorofil, serta berfungsi sebagai katalisator proses fisiologis tanaman.
  • Kelebihan dan kekurangan unsur Tembaga masing-masing memiliki effek negatif terhadap tanaman, baik secara langsung maupun tidak langsung.
  • Kekurangan unsur Cu dapat menyebabkan Mid Crown Clorosis (MCC) atau Peat Yellow. Jaringan klorosis berwarna hijau pucat sampai kekuningan, muncul di tengah anak daun muda. Bercak kuning ini akan berkembang diantara jaringan klorosis, daun pendek, kuning pucat kemudian mati.
  • Penyebab defisiensi unsur Cu antara lain rendahnya kandungan unsur Cu di dalam tanah seperti tanah gambut atau pasir, aplikasi Mg yang berlebihan sehingga kandungan Mg tinggi, aplikasi unsur N dan P tanpa K yang cukup dan berimbang.
  • Antisipasi dengan jalan memperbaiki rendahnya kandungan unsur K dalam tanah, aplikasi penyemprotan tajuk dengan 200 ppm Cu SO4.
Boron
  • Unsur Boron berpengaruh pada meristimatik tanaman, sintesa gula, karbohidrat, metabolisme asam nukleat dan protein.
  • Kekurangan unsur Boron dapat menyebabkan ujung daun menjadi tidak normal, rapuh, berwarna hijau gelap, daun yang baru tumbuh memendek sehingga bagian atas tanaman terlihat merata.
  • Penyebab defisiensi unsur Boron antara lain rendahnya kandungan unsur Boron dalam tanah, tingginya kandungan unsur N, K dan Ca akibat aplikasi yang berlebihan dan tidak berimbang.
  • Antisipasi dengan melakukan aplikasi unsur Boron dengan jumlah sekitar 0,1 - 0,2 kg/pohon/tahun pada pangkal batang.

Jumlah Unsur Hara Yang Diserap Oleh Tanaman Kelapa Sawit Dari Dalam Tanah per Ha/tahun.

Komponen
Jumlah unsur Hara ( kg/ha/tahun )
N
P
K
Mg
Ca
Pertumbuhan Vegetatif
40,9
3,1
55,7
11,5
13,8
Pelepah Daun yang ditunas
67,2
8,9
86,2
22,4
61,6
Produksi TBS (25 ton/ha)
73,2
11,6
93,4
20,8
19,5
Bunga Jantan
11,2
24
16,1
6,6
4,4
Jumlah
192,5
47,6
251,4
61,3
99,3
Sumber : Siahaan et.al (1990)


Jumlah Unsur Hara Yang Dibutuhkan Oleh Tanaman Kelapa Sawit Dari Dalam Tanah per Ha/tahun.
Komponen
Jumlah unsur Hara ( kg/ha/tahun )
Urea
SP-36
KCl
Kieserite
Dolomit
Pertumbuhan Vegetatif
88,9
19,7
354
70,7
86,8
Pelepah Daun yang ditunas
146,1
56,6
548
137,7
169
Produksi TBS (25 ton/ha)
159,1
73,8
594
127,9
156,9
Bunga Jantan
24,4
152,7
102
40,6
49,8
Jumlah
418,5
302,8
1.599
376,9
462,5
Sumber :  Siahaan et.al (1990)

read more
Related Posts with Thumbnails
 
Copyright © Tips Petani | Powered by Blogger | Template by Blog Go Blog