Kupas Tuntas Burung Cucak Rawa (Straw Headed Bulbul) - 2

SAMBUNGAN DARI SINI


Salah satu hal yang menjengkelkan bagi pecinta burung adalah burung tidak mau bunyi. Mungkin beberapa tips ini bisa memberikan obat buat anda yang lagi bingung mencari jawaban permasalahan tersebut.

1. Pastikan burung anda dalam keadaan sehat. Hal itu dapat dilihat dari tingkah laku dan kotoran burung tersebut. Burung Cucak Rawa yang sehat berperilaku agak liar dan tidak malas. Sedangkan kotoran burung yang sehat yaitu tidak encer /mencret dan berwarna sesuai makanannya. Bila diberi makan pelet hijau maka kotoran harus hijau bukan putih.
2. Jemur burung mulai jam 7-9 pagi setiap hari supaya burung tidak kutuan dan bisa bergerak lincah. Sediakan air yang cukup untuk mandi atau mandikan dulu baru dijemur.
3. Pastikan setiap hari burung memakan extra fooding berupa jangkrik atau kroto. Tapi saya sarankan kasih jangkrik pagi 4 sore 4 biji untuk menghangatkan badan. Pemberian extra fooding yang berlebihan membuat burung sangat birahi dan bulunya menjadi kusam.
4. Carikan pasangan baik jantan maupaun betina untuk merangsang berkicau (saling bersahutan) tetapi jangan yang betul betul jadi (umur diatas 3 th) karena secara mental burung kita pasti kalah dan jadi macet.
5. Tambahkan mineral pada air minum dan ganti setiap hari.

Detail Perbaikan Performa Dapat Diuraikan Secara Lebih Intens Seperti Ini :

Kebanggan Memiliki Cucak Rawa tidak terbatas atau berhenti saat kita bisa membelinya saja, namun rasa bangga ini harus disertai dengan kemauan untuk merawatnya dengan baik agar Cucak Rawa yang kita miliki mempunyai suara yang patut dibanggakan. Masa rawatan kurang dari 3 tahun masih memungkinkan bagi kita untuk bisa membenahinya (walaupun tidak semuanya bisa kita benahi). Lebih dari 3 tahun, maka kemungkinan memperbaiki kualitas suaranya akan relatif kecil.

Berikut langkah-langkah konkret yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki kualitas suara Cucak Rawa

1. Benahi terlebih dahulu kondisi fisiknya
Salah satu penyebab kurang baiknya suara Cucak Rawa adalah faktor buruknya kondisi fisik burung itu sendiri. Oleh karenanya, perbaikan fisik ini menempati prioritas utama yang harus sesegera mungkin diperhatikan dan diupayakan. Perbaikan kondisi fisik ini dapat dilakukan melalui cara memberikan makanan alami/makanan hidup/EF lebih banyak dari biasanya. Makanan buatan/pelet/voer walaupun sudah baik, bilamana memungkinkan kita oplos lagi dengan madu, telur lalu dijemur sampai kering.
Mandi sesering mungkin yang mempunyai tujuan untuk meredakan stress, memperbaiki penampilan (bulu) serta membuat kicaunnya lebih rajin dan lebih bening.

2. Pengembunan
Adalah menempatkan Cucak Rawa di luar rumah. Biasanya dilakukan menjelang fajar/matahari terbit. Namun bilamana masih kurang rajin, bisa dilakukan sejak sore hari dalam kondisi dikerodong hingga besok paginya menjelang fajar kerodongnya dibuka agar bisa melihat matahari terbit.
Hal ini juga dapat dilakukan pada Cucak Rawa anakan, bakalan, maupun yang telah rajin berkicau agar lebih rajin berkicau serta membuat suaranya lebih bening.

3. pertemukan dengan lawan jenisnya/memasangkan
bertujuan untuk merangsang Cucak Rawa agar lebih rajin berkicau hingga pada muaranya akan berkicau dengan lantang. Hal ini didasari bahwa di alam bebasnya, Cucak Rawa berkicau bersahut-sahutan.

Bila mempertemukan dengan lawan jenisnya jelas sudah artiannya, yaitu mempertemukan jantan dengan betina dan sebaliknya. Namun bila memasangkan, bisa berarti mempertemukan jantan dengan jantan (tapi tidak bisa disatukan dalam 1 sangkar) dan bukan betina dengan betina. Hal ini didasarkan pengalaman, Karena ada banyak penggemar yang tidak mendapatkan kemajuan suara apapun walaupun berkali-kali mencoba mendekatkan sangkar bahkan sejak masih bakalan antara betina dengan betina. Sedangkan antara jantan dengan jantan dapat dipasangkan suaranya dikarenakan mereka saling menjaga teritorialnya. 

Cara ini memiliki kelabihan dan kekurangan
Kelebihannya adalah burung akan rajin berkicau, kadang tanpa mengenal waktu, bahkan bila disatukan dalam satu kandang, maka akan cenderung berjodoh. Namun, ada kelemahannya yakni burung akan malas berkicau bila pasangannya terlepas, mati ataupun tidak dipertemukan.
Sulitnya lagi, manakala kita mau mencarikan pasangannya yang baru, kita akan terkendala untuk menemukan Cucak Rawa baru yang kualitasnya kurang lebihnya sama.

Ciri suara CUCAK RAWA yang baik untuk dipasangkan
Karakter yang dimiliki CUCAK RAWA berbeda 1 dengan yang lainnya. Ada juga CUCAK RAWA yang rajin berkicau walau sendirian. Namun ini jarang kita jumpai karena pada dasarnya burung ini adalah burung koloni, tetapi ada juga yang suka berkicau bilamana terpancing dengan CUCAK RAWA atau burung pendamping lainnya.
Ciri-ciri burung yang mudah dipasangkan adalah yang memiliki suara yang mudah memancing burung sejenisnya untuk berkicau. Suara yang dikicaukan cenderung lembut/tidak terlalu keras dan ada kesan ditahan-tahan. Akan tetai bila ada Cucak Rawa lain yang menyambut suaranya, maka Cucak Rawa tersebut akan lebih mengeraskan suara dan kecepatannya.

4. dekatkan dengan sumber air
Pada habitat aslinya, CUCAK RAWA selalu berada disekitaran tempat yang dekat dengan sumber air. Air selain menjadi pemenuh kebutuhan hidup Cucak Rawa juga berfungsi sebagai tempat mandi, mencari makanan dan berkumpul maupun bercengkrama pada saat musim kawin tiba. Pada saat kita pelihara/menjadi klangenan, disarnkan kita menempatkan sangkarnya dekat dengan sumber air maupun suara air yang mengalir. Bisa dekat kolam, empang, akuarium, ataupun kamar mandi.. tapi yang jelas tidak dekat dengan dispenser lho hehehehehehe.. sorry dikit oot biar gak tegang terus.

5. dekatkan dengan burung-burung yang bersuara baik
burung-burung yang dimaksud adalah burung-burung yang memiliki kicauan yang secara irama hampir mirip dan menyerupai Cucak Rawa agar lebih rajin berkicau. Sebenarnya, Memacu Cucak Rawa untuk berkicau adalah dengan memelihara lebih dari 1 ekor, namun bilamana kurang memungkinkan, kita bisa memelihara beberapa burung tersebut dibawah ini sebagai bandul untuk memancing minatnya berkicau.

GAMBAR BURUNG SRINTHEL
1) Srintel (greater racket-tailed drongo/dicrucus paradiseus)
Suara burung srintel ini tampak mirip dengan suara burung Cucak Rawa jantan dewasa.

GAMBAR BURUNG BLACKTHOAT
2) Kenari afrika (Black Throat) 
Burung ini memiliki kicauan yang baik dan cepat, kecepatan variasinya nyaris tanpa celah maupun jarak. Diantara variasinya, ada kicauannya yang hampir mirip Cucak Rawa. Kelabihannya lagi, burung ini bisa berkicau tiap 5 menit sekali yang tidak mampu dilakukan oleh burung-burung pendamping Cucak Rawa yang lainnya.

GAMBAR BURUNG ROBIN
3) burung robin
Yang dipilih adalah yang jantan, kemampuan burung ini cukup baik dalam berkicau, terutama faktor kerajinan dan kecepatan nadanya. Terlebih lagi burung ini sangat mudah terpancing bersuara bila memndengar kicauan burung lainnya.

GAMBAR BURUNG PANCAWARNA
4) Burung Pancawarna
Sama dengan keterangan burung robin, karena tipikal suaranya kurang lebihnya sama.

GAMBAR BURUNG TRENGGANIS
5)burung trengganis
Memiliki kecepatan suara serta alunan suara yang kurang lebihnya seperti robin, namun memiliki ketajaman suara yang lebih baik dari robin.

GAMBAR BURUNG CUCAK THAILAND
6) Cucak Thailand (Chlorophis aurifrons)
Juga sering disebut sebagai cucak cungkwok, ketajaman suaranya lebih keras dari burung trucukan yang bersuara ropel

GAMBAR BURUNG TRUCUKAN
7)burung burung trocok/trucukan/jogjog/jokjok/celukluk/merbah
Akhir-akhir ini, burung trocok/trucukan/jogjog/jokjok/celukluk/merbah ini banyak dipelihara karena suaranya relatif bertipe sama dengan Cucak Rawa, yakni roppel/rovel namun volume suaranya jauh lebih kecil dan lebih lunak. Burung jenis ini dapat memberi kontribusi suara yang cukup baik bagi Cucak Rawa. Oleh karenanya, burung ini lebih banyak dipilih sebagai pendamping Cucak Rawa

Walau kadang terkesan monoton, Sebenarnya kemampuan berkicau burung-burung dari keluarga besar cucak ini ini tidak terlalu buruk, terlebih bila dipelihara secara berpasangan (disarankan jantan-betina) atau minimal lebih dari satu. Hal ini juga berlaku terhadap burung Cucak Rawa yang dipasangkan Seperti uraian diatas.

KALKULASI BIAYA BETERNAK BURUNG CUCAKRAWA

Untuk menjadi seorang peternak atau penangkar burung Cucak Rawa memang tidak mudah, butuh ketekunan dan semangat juang yang tinggi. Tetapi bila berhasil keuntungan jutaan rupiah sudah menanti. Disini akan kami beri gambaran secara ringkas kalkulasi biaya dan estimasi hasil. Hasil kalkulasi ini berdasarkan harga burung Cucak Rawa sekarang. 

Anakan Cucak Rawa dijual bila sudah bisa makan sendiri. Sedangkan indukan sudah berumur 2 th sehingga sudah betul betul siap produksi (jebol kandang) dengan klarifikasi kwalitas standart bukan istimewa atau ropel.

Kalkulasi biaya beternak burung Cucak Rawa selama 1 tahun :

Pembuatan kandang 3x2x3 meter Rp 2.000.000,00
Pembelian Induk siap diternak Rp 10.000.000,00
Pakan tiap bulan @ 50.000,00 Rp 600.000,00
Lain-lain Rp 500.000,00
Total............................................. .................Rp 13.100.000,00

Estimasi hasil selama 1 tahun bila dibiarkan alami (diasuh induk) :
Induk menghasilkan anak 3 bulan sekali @ sepasang Rp 3.500.000,00
4 x 3.500.000,- Rp 14.000.000,00
Modal sudah kembali + laba ................................... RP 900.000,00

Estimasi hasil selama 1 tahun bila dirawat sendiri (penangkar) :
Induk menghasilkan anak 1 bulan sekali @ sepasang Rp 3.500.000,0
12 x3.500.000,- Rp 42.000.000,00
Dikurangi upah pegawai@ 300.000,- Rp 3.600.000,00
Modal sudah kembali + laba ..................................Rp 25.300.000,00

Semua itu gambaran betapa besar usaha sampingan kita perbulan dengan hanya mempunyai satu kandang penangkaran.Tetapi semua tidak semudah yang kita bayangkan perlu ketekunan dan kemauan untuk terus belajar.

ANAKAN CR YANG BARU DIPASANG RING
Memasang ring Cucak Rawa dan menentukan jenis kelaminnya pada saat masih piyik.
Ring Cucak Rawa biasanya dipasang berdasarkan jenis kelamin jantan Ring sebelah kanan dan betina ringnya dipasangkan disebelah kiri. Namun tak jarang pula para penangkar memasangkan ring hanya sebagai penanda saja. Jadi bilaman akita mendapatkan Cucakrawa yang sudah dewasa, kita perlu mengecek ulang jenis kelaminnya berdasarkan ciri-ciri yang telah saya uraikan diatas, terlebih bila burung tersebut kita daatkan di pasaran dan terjual secara terpisah ataupun tidak membeli sepasang mulai kecil dan kita besarkan bersama-sama.

Biasanya para penangkar yang berpengalaman akan memasang ring kepada anakannya yang belum genap berusia 14 hari, karena selain sulit memasangkan ring ini bbila usianya telah lebih dari 14 hari, kesulitan lainnya adalah penentuan jenis kelaminnya. Para penangkar profesional memastikan untuk memasang ring berdasarkan jenis kelaminnya. Penentuan jenis kelamin saat kecil ini tergolong cukup mudah yang didasarkan pada beberapa hal, diantaranya adalah :
1. melihat garis tengah di kepala
jantan garis tengah dikepala cenderung jelas (karena dewasanya rambut/bulu di kepala ini akan terbelah 2 bila jantan), sedangkan betina tanpa garis kepala atau garisnya tidak jelas
2. melihat jenis rambut/bulunya
bila jantan, maka cenderung lebih njegrak/berdiri, sedangkan betina rambutnya tidur/klimis.
3. berdasarkan besar badannya
jantan cenderung lebih besar terlebih dahulu karena biasanya piyikan jantan cenderung lebih aktif saat disuapi oleh induknya. Sedangkan betina adalah yang badannya cenderung lebih kecil.

MELATIH CUCAK RAWA BERKICAU.

Cucak Rawa bersuara baik, berkicau dengan variasi suara yang banyak selalu menjadi dambaan setiap penangkar. Pelatihan yang dilakukan dengan cara menggunakan burung pemandu, yaitu burung Cucak Rawa yang sudah pintar bernyanyi dan berkicau dengan suara kicauan yang penuh, terutama untuk Cucak Rawa bakalan. Keduanya sama-sama di tempatkan di tempat yang tinggi, Cucak Rawa pemandu ada di depan sedangkan Cucak Rawa bakalan ada di belakangnya. Lakukan cara ini berulang-ulang dan teratur sampai Cucak Rawa bakalan mampu mengikutinya atau menirukan dari nyanyian dan kicauan Cucak Rawa pemandu. 

ALAT MASTER ELEKTRONIKA

Cara lain adalah memperdengarkan atau memaster dengan peralatan elektronika, bisa berupa digital maupun analog/kaset bunyi kicauan Cucak Rawa yang menang lomba atau suara master burung Cucak Rawa Rovel. Jangan membuat suara kaset/rekaman lebih keras dari suara burung Cucak Rawa bakalan karena Cucak Rawa bakalan akan diam dan berhenti berbunyi karena tidak mampu mengikuti suara tersebut, lebih baik suara kicauan Cucak Rawa kaset lebih pelan. Jika burung Cucak Rawa bakalan ini sudah dapat mengikuti nyanyian dengan baik dan makin rajin berkicau, pelatihan dapat dilanjutkan dengan menggantungkan sangkar burung ini di tempat yang lebih tinggi. Lakukan secara rutin setiap pagi hari selama 3 atau 4 kali seminggu dari jam 07:00 - 09:00; dan dapat dilanjutkan pada sore hari jam 16:00 - 17:00.

sebaiknya menggantungkan burung Cucak Rawa ini dilakukan di pohon yang tinggi, 
selain teduh juga akan menciptakan suasana yang alami, 
sehingga burung merasa hidup di habitatnya.


LATAR BELAKANG PENANGKARAN CUCAK RAWA

Saat ini beberapa klub burung kicauan di Indonesia mulai merasakan susahnya mencari bakalan Cucak Rawa yang mempunyai suara berkualitas. Padahal dengan melakukan penangkaran, kesulitan itu akan teratasi. Selain itu Cucak Rawa juga lebih mudah untuk dibentuk suaranya sesuai keinginan pemiliknya. Berdasarkan survei Burung Indonesia dan The Nielsen, sebanyak 58,5% dari jumlah burung kicauan adalah tangkapan alam. Dan setiap tahun jumlah tersebut akan terus meningkat. Tak pelak lama kelamaan burung yang ada di alam ini bakal terancam keberadaannya. Pada akhirnya, hobi memelihara burung kicauan inipun tidak bertahan lama. Pastinya, hal ini tidak diinginkan para penggemar burung kicauan yang memelihara untuk sekadar hobi ataupun disertakan dalam lomba.

Tidak Banyak Penangkar
Salah satu cara agar hobi ini tetap bisa berlanjut, maka penangkaran harus dilakukan, tak terkecuali burung Cucak Rawa (Pynonotus zeylanicus atau straw-headed bulbul). “Dengan penangkaran, Cucak Rawa yang ada di alam tidak akan terkuras habis,” Cucak Rawa tergolong burung yang keberadaannya di alam tinggal sedikit. Memang tidak banyak yang mau melakukan penangkaran burung-burung untuk lomba karena ada anggapan menangkarkan Cucak Rawa sulit dan merepotkan. Memang awalnya sulit, tapi kalau kita selalu belajar, kendala itu akan bisa kita hadapi. Dengan melakukan penangkaran tidak saja memberikan dampak pada penambahan stok Cucak Rawa juga memberikan nilai ekonomis.Penangkaran Cucak Rawa ini sangat menjanjikan untuk menjadi lahan bisnis.Disamping itu para penangkar akan memberi peluang usaha kepada pencari jangkrik, penjual pakan, dan penjual sangkarnya.

Memberi Nilai Ekonomis
Sulitnya hobiis mencari Cucak Rawa di pasaran menjadi peluang bisnis bagi penyedia Cucak Rawa bakalan. Burung bakalan lebih banyak dipilih hobiis karena lebih mudah dibentuk suaranya. “Keuntungan lain adalah burung lebih akrab dengan manusia atau tidak liar. Cucak Rawa hasil penangkaran akan menghasilkan suara kicauan yang lebih indah. Burung juga lebih mudah dilatih sehingga suaranya bisa disesuaikan dengan keinginan pemiliknya. Bahkan saat disertakan lomba, burung hasil penangkaran tidak gampang stres menghadapi lingkungan yang baru.

Sebagai perbandingan, harga burung yang pada 1978 cuma Rp25.000 per pasang, kini melambung sampai Rp 4 juta—Rp 5 juta. Sedangkan untuk piyik Cucak Rawa Rp 4 juta perpasang. Melalui teknik pembiakan yang bagus,setiap induk bisa menghasilkan sepasang piyik setiap bulannya.

Akhirnya...., selamat mencetak burung Cucak Rowo Ropel berkualitas..!

DAFTAR INTERVIEW
* Om Irvan Sadewa / CEO Smart Mastering
* Om Fauzan ZHD
* Om Sauqi Nizar / Jasmine
* Serta beberapa Hobbiest dan Penangkar Non Member KM

DAFTAR PUSTAKA
* Smart Mastering.com 
* Omkicau.com
* Cucakrawa.com
* Damanhuri. “Beberapa Aspek Ekologie Burung Pemakan Serangga di Areal tanaman Jeunjina.” Dalam: Skripsi Sarjana Kehutanan IPB, tahun 1992, Cibunghulang Bogor.
* Emi Sumiarsih Yovita Hety Indriani, Melatih, Memelihara dan Menangkar Burung Ocehan, Penebar Swadaya Jakarta Cetakan I tahun 1994.
* Eka Poultry Industrial Interprise, Dalam: Daftar Produk Makanan Ternak, Obat Hewan dan Mineral, Semarang.
* Frans Sudiro dkk. Aneka Ayam Hias dan Piaraan, Penerbit Kanisius Yogyakarta Cetakan II tahun 1993.
* Hasanuddin Liti, “Membuat Surga Burung,”Dalam: Intisari, Agustus 1990.
* Kedaulatan Rakyat, 7 Nopember 1994 Halaman 11.
* Nugroho DRH, Budidaya Burung Cucakrawa, Eka Offset, Semarang Cetakan I, tahun 1986.
* Prawirodilogo Dewi M, “Potensi Burung dalam Pengendalian Populasi Serangga Hama”, Dalam: * Media Konservasi, September 1990.
* Roche, Vitamin dan Coratene untuk Hewan, Jakarta.
* Rasyat Muhammad, Bahan Makanan Unggas di Indonesia, Kanisius Yogyakarta, tahun 1990.
* Surwono B. “Ulat Hongkong Sebaiknya Diternak atau Dibasmi Habis”, Dalam : Trubus, Oktober 1986.
* Sumaryono H dkk, “Produksi Pisang di Indonesia”, Dalam: Puslitbang Holtikultura, Jakarta tahun 1989.
* Sudrajad, Cucakrowo, Penebar Swadaya tahun 1994.
* “Cucak Rawa Berbiak Tujuh Kali Setahun”, Dalam: Trubus, 1 Februari 1994, Nopember 291 Tahun XXV hlm. 40-41.
* Tim Penulis PS, Cacing Tanah, Penebar Swadaya Jakarta tahun 1991.
* Widyaningsih Soemadi, Abdul Muthalib, Pakan Burung, Penebar Swadaya, Jakarta Cetakan I Tahun 1995.
* Drs. Sri Panuju Karso, Penangkaran burung cucakrawa, Kanisius Yogyakarta 1996
* Rusli Turut, Sukses melatih Cucak Rawa berkicau, Penebar Swadaya Jakarta Cetakan I Tahun 1998
* Drs. Sudrajat, MM, Memilih bakalan, melatih ke arena kontes, dan menangkar si “roker “ edisi revisi, Penebar Swadaya 2005.
* Tabloid Hobi “Burung” Jawa Pos Group
* Rusli Turut, Agar Cucakrawa Rajin Berkicau, Penebar Swadaya Jakarta Cetakan I Tahun 2010 

NB : Tulisan Akan Diupdate Secara Berkala Bila mana Ada Referensi baru Yang Masuk

Salam Kicau Mania…
From Roll Mania Plus To Rovel Mania
 
Istono Yuwono Rheistmara



artikel berikutnya



0 comments:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails
 
Copyright © Tips Petani | Powered by Blogger | Template by Blog Go Blog