Cara Mengatasi Kutu Aphids Pada Cabai

Beberapa hari yang lalu, kami mendapat kiriman beberapa foto tanaman cabai yang terserang hama dari bpk. Riaditya, salah seorang mitra kami di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Beliau bertanya, ”bagaimana cara mengatasi hama kutu kebul pada tanaman cabai?” Namun setelah kami selidiki dari foto-foto yang kami terima, sepertinya hama yang menyerang tanaman cabai pak Riaditya bukanlah kutu kebul, melainkan kutu aphid
Kutu aphid pada daun cabai, bergerombol di bagian bawah daun.
Gambar 1. Kutu aphid pada daun cabai, bergerombol di bagian bawah daun.
Kutu aphid merupakan serangga super kecil (ukurannya 1/32 sampai 1/8 inci). Walaupun kecil, tapi masih bisa dilihat dengan mata telanjang.  Di bagian mulutnya memiliki tindik penghisap. Mereka menyerang daun cabai (dan banyak tanaman budidaya lainnya) dengan cara menghisap cairan dalam daun, terutama pada daun muda dan pucuk. Mereka juga menyerang jaringan batang tanaman yang lunak, “mencuri” nutrisi di dalamnya.
Berikut ini penampakan lebih jelas dari aphid:
Aphid, kutu pencuri nutrisi tanaman
Gambar 2. Aphid, kutu pencuri nutrisi tanaman
Nah, kalau kutu kebul penampakannya sebagai berikut:
Kutu kebul/kutu putih (Bemisia tabaci)
Gambar 3. Kutu kebul/kutu putih (Bemisia tabaci). Klik artikelnya di sini…
Kutu aphid mengeluarkan zat sekresi lengket, berbau manis, yang mengundang ketertarikan semut-semut. Oleh karena itu jika tanaman cabai Anda dikerubungi semut (terutama di bagian pucuknya), itu bisa jadi pertanda kalau tanaman Anda teserang hama kutu, terutama aphid. Ada hubungan saling menguntungkan antara aphid dan semut (simbiosis mutualisme). Dimana semut memakan zat manis yang disekresikan kutu daun, dan sebagai “balas budi”,  semut melindungi kutu daun dari pemangsa dan parasit. Sungguh indah… :)
Kutu yang sering menggagalkan pembungaan pada cabai ini bukan hanya menyerang tanaman sayuran, melainkan juga banyak jenis tanaman lainnya, seperti tanaman hias/bunga.
zat gula yang disekresikan aphid, mengundang semut-semut untuk datang.
Gambar 2. Zat gula yang disekresikan aphid, mengundang semut-semut untuk datang.
Nampak bahwa semut-semut berkerubung di bagian bawah daun, menghisap gula yang disekresikan aphid.
Gambar 3. Nampak semut-semut berkerubung di bagian bawah daun, menghisap gula yang disekresikan aphid.
Gejala
Gejala serangan aphid hampir mirip dengan serangan tungau, akibat cairan daun yang dihisapnya, menyebabkan daun menjadi melengkung ke atas, keriting (kadang memelintir ke samping), dan belang-belang. Daun seringkali menjadi layu, menguning, dan akhirnya rontok. Berbeda dengan tungau, kutu aphid memiliki kemampuan berkembang biak sangat cepat, karena selain dapat memperbanyak diri dengan perkawinan biasa, hama ini juga mampu bertelur tanpa pembuahan.
Secara umum, serangan aphid menimbulkan sejumlah dampak berikut pada tanaman:
  • daun melengkung ke atas, keriput, atau memelintir
  • daun berbintik-bintik
  • daun menguning, layu, dan rontok
  • pertumbuhan terhambat, tanaman menjadi kerdil
  • tunas dan percabangan tidak berkembang
  • tanaman gagal berbunga, sehingga produktivitas/hasil panen sangat rendah
Dampak dari serangan aphid: pertumbuhan tanaman terhambat (kerdil) dan hasil panen rendah.
Gambar 4. Dampak dari serangan aphid: pertumbuhan tanaman terhambat (kerdil) dan hasil panen rendah.
Seperti yang Sahabat Organik saksikan pada gambar 4 di atas, tanaman mitra kami di Kaltim ini nampak kerdil dan daun keriput, melengkung ke atas. Hal ini disebabkan cairan daun dihisap terus menerus oleh si kutu. Dasar kutu…! :)
Dampak Lebih Jauh
Kerugian yang diakibatkan serangan kutu daun cukup besar, di mana bisa menurunkan hasil panen, walaupun memang jarang menyebabkan tanaman mati. Dampak lainnya, air liur kutu aphid merupakan racun bagi tanaman, di mana tanaman seolah-olah merasakan “sakit”. Barangkali bisa diibaratkan bagaimana kita merasakan gatal dan panas tersengat saat digigit kutu ranjang alias tumbila… hehehe…
Celakanya, aphid bukan sekedar pencuri nutrisi tanaman, melainkan juga sering menjadi vektor/penular penyakit dari ratusan virus tanaman, termasuk virus kuning/gemini. Aphid juga memberi kontribusi terhadap penyebaran penyakit busuk daun (Phytophthora infestans) pada banyak jenis tanaman, misalnya pada kentang.
Kutu aphid menyebarkan penyakit dengan cepat, karena mereka sering berpindah dari satu tanaman ke tanaman lain, terutama di malam hari.
Pengendalian
Aphid memang sering bikin petani kesal, karena mereka sulit disingkirkan. Mau ditinju, tubuh mereka kekecilan… mau ditindes, jumlah mereka terlalu banyak… hehe. Sedangkan penyemprotan dengan pestisida kimia semakin hari semakin tidak efektif, di samping harganya yang terus meroket. Lantas, apa yang mesti kita lakukan?
Ada beberapa kiat (secara perilaku) yang membantu mengurangi intensitas serangan aphid, walaupun mungkin tidak sepenuhnya tuntas.
  • Periksa daun tanaman Anda secara teratur, untuk memastikan tanda-tanda kutu daun. Carilah kelompok kutu yang bergerombol di balik daun, terutama pada pucuk dan daun muda, serta pada daun yang terlihat menggulung dan keriput.
  • Jika populasinya masih sedikit, tindes saja kutu daun dengan tangan (gunakan sarung tangan).
  • Bisa juga menyemprotkan air bertekanan tinggi ke tanaman, sehingga dapat mencuci dan melemparkan aphid, namun cara ini tidak efektif diterapkan di ladang pertanian.
  • Jika memungkinkan, jangan menanam tanaman yang dapat menarik semut di lahan budidaya Anda, seperti melon, rambutan, dll. Seperti telah dijelaskan, semut akan memakan pemangsa aphid. Nah, dengan demikian populasi aphid bisa tak terkendali jika pemangsanya musnah.
  • Ada beberapa jenis serangga yang bisa kita manfaatkan untuk memangsa aphid, seperti kepik atau lacewings hijau. Di beberapa negara, serangga-serangga ini dapat dibeli dari toko taman atau secara online. (Baca artikelnya di sini)
  • Aphid juga bisa “ditangkap” dengan menempatkan perangkap lengket berwarna kuning di dekat tanaman budidaya Anda, namun sayangnya cara ini bisa menarik lalat buah datang (dari jauh) yang justru bisa mengancam buah cabai Anda.
  • Jaga lahan Anda bersih, bersihkan gulma secara rutin, gunting daun-daun dan ranting-ranting ranting cabai Anda yang terlalu rimbun atau rusak.
  • Gunakan mulsa perak untuk menutup bedengan Anda. Diketahui bahwa plastik mulsa perak dapat menekan populasi hama kutu selama bulan-bulan pertama.
  • Karena perilaku kutu aphid yang terus menerus menghisap cairan nutrisi pada tanaman, maka cukup realistis jika kita “mengganti” nutrisi tersebut dengan menyuplai tanaman dengan pemupukan berbahan organik secara intens.
Pengendalian dengan Insektisida Organik
Seperti disebutkan di atas, pengendalian berbasis perilaku/budaya mungkin tidak sepenuhnya menuntaskan serangan aphid di lahan budidaya Anda. Oleh karena itu diperlukan solusi lain yang lebih praktis dan “beraksi cepat”. Dalam hal ini, kami sarankan bahwa Sahabat Organik untuk menggunakan insektisida berbasis organik, bisa dengan membelinya di toko-toko pertanian terdekat atau secara online. Kami, Bumi Makmur Walatra sendiri mengeluarkan produk insektisida organik yang sudah banyak dipakai oleh petani-petani cabai di berbagai daerah di Indonesia


artikel berikutnya



0 comments:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails
 
Copyright © Tips Petani | Powered by Blogger | Template by Blog Go Blog