loading...

Prospek Pemanfaatan Getah Pinus



Telah kita ketahui bahwa ada kecenderungan terjadinya penurunan produktifitas hutan alam, terutama hasil hutan berupa kayu, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Hal ini disebabkan karena selama ini pemerintah lebih mengutamakan hasil hutan berupa kayu sebagai produk primadona dalam bidang bisnis kehutanan untuk memperoleh devisa yang sebanyak-banyaknya. Kondisi ini telah mengakibatkan rusaknya lingkungan hutan, berkurangnya keanekaragaman hayati, serta bentuk-bentuk kerusakan yang lain. Berdasarkan hal tersebut maka pengelolaan hutan di masa yang akan datang seyogyanya diarahkan untuk lebih meningkatkan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu yang jenis dan potensinya sangat berlimpah. Banyak pakar yang memprediksi bahwa pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu akan berperan lebih penting dibandingkan dengan produk-produk kayu, baik dari sisi ekonomi, lingkungan, sosial maupun budaya.

Salah satu produk hasil hutan bukan kayu yang mempunyai prospek cukup cerah di masa mendatang untuk dikembangkan di Indonesia adalah gondorukem yang merupakan hasil destilasi dari getah (oleo-resin) yang disadap dari pohon pinus (Pinus merkusii). Peluang mengembangkan industri gondorukem ini cukup besar, mengingat potensi hutan pinus yang cukup besar yang belum dimanfaatkan secara optimal, serta adanya peluang pasar yang terbuka lebar, baik untuk keperluan domestik maupun ekspor.

Prospek Pemanfaatan Getah Pinus
Kabupaten Aceh Tengah memiliki potensi hutan pinus alam yang sangat baik seluas ± 90.000 ha. Sampai saat ini pemanfaatan tegakan pinus masih tebatas pada pemanfaatan kayu sebagai produk utama. Pemanfaatan getah pinus dapat dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar hutan sebagai penyadap getah. Berdasarkan pengalaman sadapan pinus yang telah dilakukan di Perum Perhutani, produktivitas sadapan getah pinus adalah 9 gram/pohon/hari. Dengan memperhitungkan luas areal yang disadap adalah 50 % maka potensi getah pinus yang dihasilkan adalah sebesar 121,5 ton per hari.

Biaya pengelolaan penyadapan pinus yang terdiri dari : upah sadap, penanganan getah, angkutan dan biaya manajemen lainnya adalah sebesar Rp 8.000,-/kg. Harga getah pinus di pasar internasional pada awal tahun 2011 adalah sebesar US $ 1700 per ton atau sekitar Rp 15.300,- per kg ( US $1 = Rp 9.000,-). Dengan demikian potensi pendapatan yang akan diterima bila dilakukan penyadapan pinus di Kabupaten Aceh Tengah adalah sebesar Rp 886.950.000,-per hari.

Prospek Pabrik Gondorukem dan Terpentin
Gondorukem diperoleh dengan cara destilasi getah yang diperoleh dari penyadapan pohon pinus. Setelah diangkut ke pabrik, getah hasil penyadapan terlebih dulu dilakukan pengenceran dan penyaringan, selanjutnya di-destilasi pada suhu dan tekanan tertentu. Desain peralatan dalam produksi gum rosin ini bervariasi pada setiap negara , namun secara garis besar proses tersebut dapat dilihat pada Diagram 1. Prinsip dari metoda ini adalah memisahkan antara gondorukem dan terpentin yang terdapat di dalam getah pinus melalui proses destilasi, antara lain melalui proses : pengenceran; pencucian; penyaringan; pemasakan dan pengemasan. Instalasi proses produksi sebagaimana pada gambar 1.